permisi suhu..ijinkan nubi share salah satu cerita kesukaan nubi.
semoga suhu berkenan
setidaknya nubi tidak kenaatau
monggo,cek dis wan aut.
Namaku Chandra, seorang mahasiswa semester 3 di salah satu PTS terkenal di kotaku. Awalnya aku adalah seorang mahasiswa biasa-biasa saja, sampai kehadiran seorang cewek yang telah merubah hidupku. Dan ini adalah ceritaku.
Aku adalah seorang mahasiswa yang biasa-biasa saja. Kenapa aku bilang biasa-biasa saja karena tidak ada yang spesial dengan diriku. Aku adalah seorang online-gamer yang sering menghabiskan waktu di depan komputer. Namun meski aku sorang maniak game, prestasi akademikku juga tidak terlalu mengecewakan.
Aku memiliki tampang dan postur yang sebenarnya cukup mudah untuk memikat cewek (menurutku sih). Aku pernah beberapa kali berpacaran. Namun semua berjalan biasa-biasa saja. Selama aku berpacaran, aku tak pernah menyentuh yang namanya seks. Semuanya merupakan hubungan cinta monyet yang biasa-biasa saja. Aku terlahir dari keluarga yang baik-baik, dan setiap kenakalan yang aku perbuat merupakan kenakalan remaja biasa. Aku tidak pernah berbuat hal bodoh, karena aku ingin masa depan yang cerah dan tidak mengecewakan orang tuaku. Aku menikmati keindahan wanita hanya sebatas pada imajinasi saja, tentu imajinasi tersebut aku tuangkan pada aktifitas seksual yang lazim dilakukan, onani. Namun pada saat ini, aku sedang menjomblo. Bukan karena aku tak laku, tapi karena ini adalah pilihan hidupku sebelum nantinya aku mencari yang lebih serius untuk masa depan anak-anakku.
Semua berawal pada saat libur semester. Aku beserta 3 temanku baru saja mengontrak rumah untuk kami jadikan sebagai tempat tinggal sementara di tanah perantauan ini. Namun saat itu aku sedang sendirian di kontrakan baru ini. 3 temanku berasal dari luar pulau, jelas waktu liburan yang panjang ini mereka gunakan untuk pulang ke kampung mereka masing-masing. Sedangkan aku bisa saja pulang kampung seminggu sekali, karena rumahku yang tak terlalu jauh. Namun liburan ini aku putuskan untuk tetap di kontrakan. Selain menjaga kontrakan agar tidak kosong, aku juga memanfaatkan koneksi internet kontrakan yang bisa aku pakai sendiri tanpa berbagi dengan temanku yang lain.
Pada saat aku sedang menikmati kesendirian sambil bermain game online kesukaanku, hapeku berbunyi. Namun tak kuhiraukan hapeku tersebut, karena aku sedang dalam permainan game online yang jelas tidak dapat di-pause. Sampai 3 jam kemudian, setelah aku lelah bermain, aku baru ingat kalau hapeku sempat berbunyi.
"Chandra ya?"
Isi SMS yang kuterima waktu. Nama pengirimnya sudah tidak asing lagi, tapi nama tersebut adalah nama kontak yang tak pernah kuduga menghubungiku. NAYA. Sudah pasti itu adalah Naya teman SMA ku dulu. Meskipun kita satu SMA, sebenarnya aku tidak benar-benar akrab dengannya. Aku tidak pernah satu kelas dengannya sehingga tidak ada alasan untuk kami saling berkomunikasi. Namun ada sebuah kejadian yang membuat aku dan dia akhirnya melakukan komunikasi. SMS dari Naya itu pun adalah satu hal yang tak terduga. Jika tiba-tiba dia menghubungiku, maka ada satu hal penting yang ingin dia sampaikan.
"iya ini chandra, ini siapa ya?" balasan SMS yag kukirim ke dia. Aku sengaja pura-pura tidak tahu siapa pengirim SMS itu. Hal tersebut agar tidak terlihat kalau aku masih menyimpan nomornya selama ini, padahal kita tidak pernah berkomunikasi dengannya via telepon. Nomornya pun aku dapat dari buku tahunan kelulusan SMA kami. Aku sengaja menyimpan setiap nomor teman sekolahku, karena aku berpikir mungkin saja akan menghubungi mereka kelak ketika aku membutuhkannya.
Waktu sudah beranjak malam. Naya tak kunjung membalas balik SMSku. Hingga akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 01.00 aku sudah mulai hendak tidur, tiba-tiba handphoneku berdering. Kulihat layar handphoneku bertuliskan nama Naya, namun kali ini bukan SMS, dia telepon!
Kuangkat panggilan tersebut...
"Hallo? Chan?" suaranya lembut sekali.
"Hallo? Iya ini chandra, ini siapa ya?" jawabku.
"Ini Naya chan... masih inget kan?"
"Naya? Oiya iya aku inget..."
"Kamu udah tidur chan? Sorry ya kalau aku ganggu malem-malem..."
"Belum kok nay, aku belum tidur.... Ada apa nay?"
"Hmmm... Kata Tia kamu kuliah di **** ya?"
"Iya nay. Kenapa?"
"Jadi gini, minggu depan rencana aku mau daftar kuliah lagi di ****. Jadi aku mau minta tolong sama kamu..."
"Lho emang kenapa kok mau daftar kuliah lagi nay?" tanyaku.
"Aku ngerasa salah jurusan chan, hehe... Gak betah juga kuliah disini..."
"Oooh... Hmmmm... Jadi apa yang bisa aku bantu nay?"
"Minggu depan kan aku kesitu, trus rencana mau nginep. Boleh minta tolong cariin homestay atau penginapan yang deket situ gak? Yang murah aja tapi... hehe"
"Oh, bisa-bisa... Buat berapa orang nay?" tanyaku.
"Satu aja sih..." katanya singkat.
"Lho? Kamu sendirian?" tanyaku tidak percaya.
"Iya chan..." jawabnya.
"hmmm... tapi kalau kamu mau, kamu bisa kok tidur ditempatku... gratis... hehe"
"Gak enak lah chan... masa cewek nginep di kosan cowok..."
"Aku gak ngekos kok nay. Aku sama temen-temenku ngontrak rumah, tapi lagi pada mudik... jadi di rumah cuma ada aku..."
"Hmmmm.... " Naya terlihat mempertimbangkan sesuatu.
"Terserah kamu sih nay... Kalu masih mau nginep di penginapan ya ntar aku cariin..." Kataku menyela kebimbangannya.
"Okedeh aku nginep tempatmu aja... tapi nggak ngrepotin kan chan?"
"Gak kok nay..."
"Satu lagi chan... Minggu depan kamu mau jemput aku di stasiun gak? hehe..." pintanya.
"Gampanglah itu... ntar kabarin aja kalau mau kesini..."
"Oke chan... makasih banget ya... sekali lagi sorry ya kalau aku ganggu malem-malem... Yaudah... met malem chandra...."
"Gak papa kok nay.... malem juga...."
Begitulah percakapanku dengannya malam itu. Aku tidak dapat membayangkan jika akan ada cewek secantik Naya bakal menginap ditempatku.
Pada saat SMA Naya terkenal sebagai dirigen paduan suara setiap kali upacara bendera. Tak hanya cantik, dia juga terkenal cukup pintar dikelasnya. Setidaknya itu yang kudengar dari temanku, karena aku tidak pernah satu kelas dengannya. Setiap orang di sekolahku pasti mengenalnya, bahkan beberapa cowok mulai mengaguminya. Aku juga salah satu yang mengaguminya sejak pertama kali melihatnya di sekolah. Namun aku hanya bisa mengaguminya dari jauh, karena mungkin Naya tidak benar-benar mengenalku waktu itu. Dia baru mengenalku setelah sebuah kejadian yang tak terduga.
Suatu hari saat kami kelas XI, Naya pernah mengalami kecelakaan. Setiap hari dia memang berangkat-pulang selalu mengendarai motornya sendiri. Saat itu, motornya tersenggol sebuah mobil hingga dia terjatuh. Kebetulan pada saat itu aku mengendari motor bersama temanku, berjalan di belakangnya. Melihat dia terjatuh, langsung saja aku menolongnya. Naya terluka cukup parah, setidaknya darah terlihat membasahi lengan dan kakinya. Aku yang lebih dulu berinisiatif menolongnya, membopongnya hingga ke tepi jalan. Sedangkan Naya hanya menangis merintih kesakitan. Dengan dibantu warga, ada yang bersedia menyediakan mobil untuk membawanya ke rumah sakit. Dan akhirnya aku pun menemani dia ke rumah sakit, menunggunya, hingga orang tuanya datang menjemputnya.
Dari kejadian tersebutlah Naya menjadi mengenalku. Meskipun setelah itu kami tetap jarang bermain bersama, setidaknya dia selalu menyapaku lebih dulu setiap kali kami berpapasan.
*****
Seminggu kemudian....
Jam menunjukkan pukul 9 malam. Sudah hampir sejam aku duduk gelisah di ruang tunggu stasiun. Nampaknya kereta yang Naya tumpangi mengalami keterlambatan. Setiap kereta yang berhenti, aku selalu berharap Naya merupakan salah satu dari penumpang yang turun dari kereta tersebut. Sampai akhirnya kereta keempat yang berhenti waktu itu, banyak sekali penumpang yang turun. Namun mataku langsung tertuju pada sesosok wanita muda diantara penumpang lainnya. Meskipun dari jauh, aku dapat memastikan jika itu adalah Naya. Segera kulambaikan tangan padanya, dan dia pun merespon dengan lambaian juga.
Aku menghampirinya, dia juga berjalan kearahku. Semakin dekat aku dengannya, semakin jelas kecantikan yang ada padanya. Aku sadar dia kini bukan Naya yang sama dengan masa SMA dulu, kini dia bisa berdandan dan tahu bagaimana cara memikat hati lelaki. Namun poin penting yang membuatnya lebih cantik adalah karena dia kini mengenakan hijab. Dia terlihat begitu anggun sekali dengan hijab tersebut. Meski berhijab, dandanannya tetaplah modis. Dengan baju lengan panjang yang warnanya sepadan dengan hijabnya, serta celana jeans yang cukup ketat memperlihatkan bentuk kaki jenjang miliknya. Semakin aku mendekat padanya, semakin jelas pula kecantikan wajahnya. Terdapat raut muka kelelahan di wajahnya, namun tetap tidak dapat menyembunyikan kecantikan alami yang ada padanya, bahkan tanpa makeup sekalipun.
"Hai chan.." sapanya dengan senyumnya yang sangat manis.
"Hai nay..." balasku sambil menyodorkan tangan untuk berjabat tangan.
Namun tak kusangka, dia tidak hanya menjabat tanganku. Dia menyodorkan pipinya untuk melakukan cipika-cipiki. Aku agak kaget karena tidak menyangka dia akan melakukan hal tersebut. Saat melakukan cipika-cipiki, aku dapat merasakan halusnya kulit pipinya tersebut serta dapat mencium aroma wangi dari tubuhnya.
Cipika-cipiki tersebut membuat aku gugup dan sampai-sampai aku bingung mau ngomong apa ke dia. Aku hanya menatap matanya sampai Naya melambai-lambaikan tangannya di depan mukaku, menyadarkanku dari lamunan.
"Eh, sini tasnya aku bawain" kataku yang gugup setelah terbangun dari lamunan.
"Gausah chan, ini gak berat kok" katanya.
"Tapi kan kamu pasti capek..."
Naya hanya tersenyum dan memberikan tas ranselnya padaku, sedangkan dia masih menenteng plastik.
"Yuk ah, keburu kemaleman.. ntar kena begal lho... hehe" ajakku.
"Kan ada kamu... ngapain takut begal.. hehe" jawabnya.
"Hahahaha..." kita pun tertawa bersama. Ternyata Naya orangnya mudah untuk berkomunikasi. Baru sebentar ketemu, kami sudah akrab satu sama lain.
"Sorry ya nay, jemputannya cuma roda dua..."
"Gapapa lah chan... yang penting ada rodanya.... haha" jawabnya.
Singkat cerita, kami sudah sampai di kontrakanku. Segera aku menunjukkan isi rumah tersebut.
"Ini kamarku... nanti kamu tidur disini aja..." kataku sambil membuka pintu kamarku.
"Trus kamu? Tidur disini juga?" tanyanya.
"Ya nggak lah... kan masih ada 3 kamar kosong... ntar aku tidur di kamar temenku aja..." jawabku.
Naya pun segera masuk dan melihat-lihat kamarku.
"Yaudah ya nay.... monggo kalau mau istirahat dulu...." aku segera meninggalkannya.
"Makasih ya chan....
Friday, August 21, 2015

atau 