Tuesday, August 25, 2015
10:52 AM

Balada Rif'ah, Seorang Akhwat Partai - 2

Membayangkan film-film porno yang kemarin ia tonton di warnet, membuat Rif'ah tidak bisa tidur nyenyak. Tanpa sadar Rif'ah bermasturbasi sambil berfantasi dengan gambar-gambar porno Rikhanah yang kemarin dia sita.

Tanpa sepengetahuan Rif'ah sedari tadi, Faizah teman dekatnya mengintip dari balik jendela, Faizah mendadak menyeringai melihat Rif'ah dan diam-diam dia menghampiri Rif'ah yang tengah terggelam dalam birahinya dari belakang, lantas kedua tangan Faizah ini memeluk Rif'ah dari belakang.

"Lagi ngapain mbak?" tegurnya di dekat telinga Rif'ah yang masih tertutup jilbab.

Aww!!" pekik Rif'ah kaget dengan tubuh terlonjak kaget. Secara refleks akhwat PKS ini menghentikan aktivitas masturbasinya dan segera membenahi jubahnya yang tersingkap lebar hingga ke pinggang. Wajah cantik akhwat PKS ini merah padam dan beberapa saat dia hanya terpaku oleh rasa kaget luar biasa dipeluk oleh Faizah dari belakang.

"Nggak papa koq mbak, aku nggak akan lapor sama Ummu Nida atau mbak Mufidah kok. Aku paham koq, aku juga suka dengan gambar-gambar punya mbak Rikhanah ini. Ayo terusin lagi" desis Faizah di dekat telinganya yang membuat Rif'ah merinding.


Rif'ah masih terdiam ketika tanpa diduganya tangan Faizah yang memeluknya tiba-tiba meremas kedua buah dadanya membuat Rif'ah terkejut luar biasa.

"Mbak Rif'ah masih terangsang yah, buah dada mbak masih kenceng gini."

"Eh, Faizah. Apa-apaan ini?!" protes Rif'ah pelan sambil berusaha menepis tangan Faizah.

"Jangan protes mbak, aku tahu mbak Rif'ah punya kumpulan gambar porno dan cerita-cerita erotis dalam flash disk punya mbak yang semalam aku pinjem. Aku janji nggak akan melaporkannya kepada Ummu Nida dan Mbak Mufidah kok, tenang aja nasib mbak Rif'ah nggak akan kayak mbak Rikhanah kok."

Rif'ah terdiam dan dirinya merasa aneh dengan tingkah Faizah yang tidak diduganya ini. Akhwat PKS ini merasa meriding ketika tangan Faizah yang memeluknya kembali meremas-remas buah dadanya dan Rif'ah mulai merasakan nafas Faizah tersengal memburu mengenai jilbabnya seperti tengah dilanda birahi.

"Mbak Rif'ah masih birahi khan, ayolah nikmati saja" desis Faizah dengan suara gemetar sementara kedua tangannya terus meremas-remas buah dada montok di dada Rif'ah yang masih tertutup jilbab putih yang lebar.

"Faizah jangan!" desis Rif'ah dengan tegang ketika tangan Faizah kini menyusup ke balik jilbab putih lebar yang dipakainya.

"Sudahlah mbak, flashdisk punya mbak Rif'ah masih di tanganku. Aku janji nggak akan melaporkan ke atas!" desis Faizah dalam.

Rif'ah yang tidak mau nasibnya seperti Rikhanah, ditambah dengan gelegak birahi yang masih menguasainya, akhirnya pasrah ketika tangan Faizah membuka kancing jubahnya di balik jilbab lebar yang dipakainya. Beberapa saat kemudian tangan Faizah segera menyusup meremas buah dada milik Rif'ah yang montok dan kencang tersebut hingga membuat Rif'ah merasakan sebuah sensasi yang aneh dan membuatnya bingung.

"Mmm, montok dan kenyal. Aku sudah lama merindukan bisa beginian dengan mbak Rif'ah. Mbak Rif'ah cantik, sintal selama ini selalu membuatku bergairah."

Mata Rif'ah membelalak lebar mendengar ucapan Faizah, akhwat PKS ini tidak menyangka bahwa akhwat berperawakan atletis dan anggota Santika adalah seorang akhwat yang menyukai sesama jenis. Belum hilang keterkejutannya, Rif'ah merasakan tangan Faizah kemudian tidak hanya sekedar meremas-remas buah dada miliknya namun juga memilin puting susu yang tegang tersebut, membuat tubuh akhwat PKS yang cantik ini menggeliat dan desahnya tak mampu ditahannya meloncat dari mulutnya.

"Ahhhh, Faizah. Jangaaan!"desah Rif'ah spontan.

Seumur hidupnya baru pertama kali ini puting susunya dipilin sedemikian rupa yang sangat membangkitkan nafsu birahinya. Namun di satu sisi dia merasa merinding karena yang memilin puting susunya dengan lihainya adalah seorang akhwat seperti dirinya.

"Kita ke kamar aja mbak," bisik Faizah begitu mesra kepada Rif'ah.

Entah kenapa Rif'ah terlihat pasrah ketika Faizah menariknya ke dalam kamar yang terletak di sebelah ruang Arsip. Kamar tersebut adalah salah satu kamar dari tiga kamar di kantor DPD PKS sebagai tempat istirahat personil atau transit tamu-tamu dari luar kota. Fasilitas dalam kamar tersebut sangat sederhana, sekedar sebuah pembaringan lengkap dengan bantal guling serta satu set meja dan kursi.

Dalam kamar tersebut, Faizah tidak serta merta merebahkan Rif'ah di pembaringan namun akhwat PKS yang cantik sekaligus seniornya di PKS itu disandarkan di dinding kamar. Tubuh Faizah memang lebih tinggi dan lebih besar di bandingkan tubuh Rif'ah sehingga Faizah terpaksa menundukkan wajahnya memandang wajah cantik yang berbalut jilbab putih yang lebar yang kini tengah dipeluknya.

"Mbak Rif'ah cantik, aku udah lama nungguin yang kayak gini. Mbak begitu cantik, tubuh mbak sintal," ungkap Faizah sembari membelai wajah Rif'ah sementara akhwat PKS yang cantik ini hanya membelalakkan kedua matanya menatap Faizah dengan tatapan yang sulit dimengerti. Deru nafas Faizah yang memburu terasa hangat menampar-nampar wajahnya.

Faizah kian mendekatkan wajahnya ke wajah Rif'ah hingga bibirnya menyentuh bibir akhwat yang cantik ini membuat tubuh Rif'ah kejang. Rif'ah sempat melengos ketika bibir Faizah hendak melumat bibirnya, namun dengan cepat Faizah memburunya sehingga sesaat kemudian bibir Rif'ah yang ranum tersebut dapat dilumatnya dengan penuh nafsu. Tubuh Rif'ah semakin kejang dan sesaat kemudian akhwat PKS ini menggelinjang ketika lidah Faizah menyapu dan membelit lidahnya dengan lihainya. Seumur hidupnya baru kali ini bibirnya dilumat dengan bernafsu oleh orang lain dan yang membuatnya terlihat bingung karena yang melumat bibirnya adalah seorang akhwat seperti dirinya.

Faizah tidak memperdulikan kebingungan Rif'ah karena dia mengetahui kalau akhwat seniornya yang cantik ini masih dalam keadaan birahi, ketika tangannya yang kembali menyusup ke balik jilbab menemukan buah dada montok Rif'ah masih mengeras kencang. Bahkan ketika tangannya menyentuh puting susu akhwat yang cantik ini, Faizah masih merasakan puting susu tersebut terasa masih kencang sehingga membuat Faizah dengan gemas memilinnya. Tubuh Rif'ah menggelinjang ketika kembali puting susunya dipilin-pilin Faizah sementara bibirnya terus melumat bibir akhwat berwajah cantik ini dengan penuh birahi.

Tanpa melepaskan pagutannya serta dengan tangan masih bermain-main di dada Rif'ah, Faizah mendorong akhwat PKS yang cantik ini ke arah pembaringan dan merebahkannya di atas pembaringan tersebut. Rif'ah terengah-engah antara rasa nikmat dan kebingungan yang mencekamnya, sementara tatapan matanya nanar menatap Faizah yang berdiri di sisi pembaringan.

"Ayo mbak, kita bermain-main. Aku dah lama pengen ginian sama mbak," ujar Faizah sambil duduk di pembaringan.

Kedua tangan Faizah terulur ke tubuh Rif'ah lantas menyusup masuk ke balik jubah panjang yang dipakai akhwat PKS berparas cantik ini. Rif'ah tersentak dan secara refleks tangannya mencegah tangan Faizah namun akhwat PKS juniornya ini hanya tersenyum penuh arti kepadanya. Tatapan dan senyuman Faizah itu membuat Rif'ah memahami bahw a gadis ini mempunyai kartu truf yang akan menghancurkan kariernya di PKS sebagaimana Rikhanah. Akhirnya Rif'ah membiarkan tangan Faizah menggerayangi tubuhnya di balik jubah panjang yang dipakainya.

"Tenang mbak, mbak tidak akan ternodai. Keperawanan mbak Rif'ah tetap akan utuh," bisik Faizah ketika tangan gadis PKS ini telah sampai di selangkangan Rif'ah.

"Faizah...." desis Rif'ah tegang ketika dia merasakan jemari Faizah menyusup ke balik celana dalam yang dipakainya. Lantas jemari gadis PKS asal Jakarta ini menyusuri belahan bibir kemaluan Rif'ah ke atas dan ketika telah menyentuh kelentit Rif'ah, jemari Faizah seketika memilin bagian tubuh Rif'ah yang paling sensitif tersebut.

"Ahhhh...." desah Rif'ah menggelinjang ketika jemari Faizah memilin dan merangsang kelentitnya dengan luar biasa. Faizah tersenyum melihat reaksi Rif'ah dan reaksi tersebut membuatnya semakin bernafsu merangsang akhwat PKS yang cantik ini. Faizah melepaskan kaus kaki krem yang membungkus kedua kaki Rif'ah dan diletakkannya di bawah pembaringan. Satu tangan Faizah masih mempermainkan kelentit Rif'ah sementara tangan lainnya mengelus-elus kaki akhwat PKS yang putih mulus itu. Bahkan kemudian Faizah membungkuk dan menciumi kaki Rif'ah dari jemarinya yang halus kemerahan terus merayap ke atas sembari menyingkap jubah panjang yang dipakai Rif'ah.

Rif'ah menggelinjang dan mendesah di tengah keterombang-ambingannya antara rasa nikmat oleh rangsangan Faizah dan nalurinya yang menolak dicabuli oleh sesama jenis. Faizah yang mempunyai kartu truf tentang kejelekan Rif'ah membuat Rif'ah tak kuasa melawan keinginan Faizah sehingga rasa birahilah yang akhirnya dominan terhadap diri akhwat PKS yang cantik ini walaupun dia menyadari yang merangsangnya adalah seorang akhwat seperti dirinya.