Saturday, April 11, 2015

Istri Dosenku, Yang Awalnya Minta Masukan, Akhirnya Minta Dimasukin

Pindahan dari Setengah Baya

Hai. Saya Aldo (nama samaran). Waktu itu saya
berusia 24 tahun. Saya kuliah di sebuah kota di Jawa
Tengah, dan mengambil jurusan yang sedang trend
saat itu, bahkan sampai sekarang. Saat itu saya
sedang vacuum kuliah karena terlalu sibuk bekerja.
Bekerja dari sebuah hobby yang dibayar,
menyenangkan, dan sekaligus ingin saya ambil
menjadi topik skripsi nantinya.
Sering berjalannya waktu, saya dipertemukan kembali
dengan dosen ketika masih aktif kuliah. Kebetulan
sebelumnya kami sudah akrab. Kami bertemu di
kantor saya, karena memang dia ada urusan
kerjasama bisnis dengan kantor di mana saya
bekerja. Saat datang, ia bersama istrinya. Sebut saja
ia Mbak Debby. Ia tinggi besar, dengan kulit berbintik
khas keturunan Belanda, badan bongsor. Tidak bisa
dibilang indah bentuk tubuhnya, karena bisa
dikategorikan BBW. Wajahnya manis, karena
bercampur dengan darah Jawa. Payudaranya besar,
meskipun sudah kendor. Maklum, ia berusia 43 tahun
dengan dua anak yang sudah besar. Kami bertemu
saat dia bersama suaminya ke kantor saya. Karena
sudah cukup lama kami tak bersua, kami ngobrol dan
bertukar pin BBM.
Setiap hari kami ngobrol. Dan sampai akhirnya, ia
bercerita soal suaminya yang tidak mencintainya dan
tidak menafkahi batin selama tujuh tahun.
Debby (D) : Hai, Aldo. Lagi ngapain?
Aku (A) : Lagi santai aja mbak. Gimana?
D : Gini, aku mau cerita. Soal suamiku.
A : Suami mbak kenapa?
D : Hmmmm, dia selama ini tidak mencintaiku, kasar,
dan sudah tidak menafkahi batinku bertahun-tahun.
A : Lho, kok bisa mbak? Kenapa?
D : Dulu, aku hamil di luar nikah, dan lahirlah anakku
yang pertama. Akhirnya dia menikahiku karena
perjodohan. Selama ini dia kasar padaku, terutama
setelah anak keduaku lahir. Aku sudah seperti
binatang untuknya.
A : Sabar ya, mbak. Yang tabah.
D : Aku harus gimana, Do? Aku bingung.
A : Cerita aja sama aku mbak. Siapa tahu lebih lega.
D : Mainlah sini, Do. Mumpung malam ini suamiku ke
Jakarta.
A : Okay, mbak. See you.
Tak kusangka, semuanya seperti lancar sekali
jalannya. Saya ke rumahnya, kami saling bercerita
malam itu, dan saya memberi saran untuknya supaya
tetap kuat. Kami jadi lebih intens berkomunikasi. Dan
dia semakin lama semakin dekat dengan saya,
bahkan memanggil saya dengan sebutan "sayang",
apalagi kalau dia sedang ingin bertemu saya.

Pagi itu, Mbak Debby mengirim BBM.
D : Sayang, bisa ke rumah?
A : Mau ngapain mbak? Pagi-pagi kok sudah disuruh
ke rumah?
D : Suamiku tadi berangkat ke Semarang. Bisa tolong
antar aku ke kantor? Tapi datangnya cepet ya. Kalau
bisa jam 6 udah di rumah. Ya sayang?
A : Okay deh. Tunggu ya.
Saya berpikir, ada apa gerangan jam 6 pagi sudah
disuruh datang? Terkesan memaksa, dan buru-buru
sekali. Ah, mungkin hanya perasaan saya saja. Tidak
mungkin lah akan terjadi hal yang aneh. Sebelum
saya berangkat, ia mengirim foto via BBM, dan foto
itu adalah foto pahanya yang sedang bersilang, putih
dan besar, layaknya orang bule. Hatiku langsung tidak
karuan. Langsung saja saya bergegas menuju ke
sana. Sesampainya di sana, ia membukakan pintu,
dan hanya mengenakan daster batik tipis. Terlihat
sekali ia tidak menggunakan bra, karena nipple-nya
tercetak jelas. Saya masuk, dan tak terduga, ia
mengecup pipi saya sambil mengucapkan selamat
pagi. Ia menyuruh saya sarapan, karena sudah
memasak khusus untuk saya. Di tengah makan, kami
ngobrol.
D : Sayang, enak??
A : Enak sekali, mbak.
D : Kok panggil mbak? Panggil yang lainnya dong.
A : Eh, iya sayang.
D : Nah, kan lebih enak. Habis makan nanti, aku
sudah siapkan hidangan penutup buat kamu.
A : Ha? Apaan sayang?
D : Sudah, habiskan dulu. Nanti kamu juga tahu.
Saya makan, dan lekas menghabiskannya. Ia masuk
ke kamar. Lalu ia berteriak dari kamar memanggilku.
D : Sayang, coba ke sini sebentar.
A : Iya.
D : Sini, rebahan di sampingku.
A : Iya, boleh?
D : Boleh dong sayang.
Tak kusangka, ia meraih tubuhku dan menciumku
dengan penuh nafsu.
D : Sayang, puasin aku sekarang. Sudah lama aku
tidak merasakan kehangatan seorang pria.
A : Tapi, kamu istri dosenku. Bisa mati aku nanti.
Bisa kacau kuliahku.
D : Ini rahasia kita sayang. Puasin aku sekarang,
tubuhku milikmu sayang. Jangan ragu, telanjangi aku,
jamah aku, dan aku akan puaskan kamu juga. Ayo
sayang. Tunggu apa lagi??
Akhirnya nafsuku bergejolak. Melihat wanita paruh
baya yang liar, meskipun tubuhnya tak lagi indah.
BBW istilahnya. Kucium bibirnya, kami bermain lidah,
saling menumpahkan hasrat nafsu sepasang manusia.
Ciuman yang liar, namun tetap mesra. Terasa sekali
ia kehausan akan belaian, lapar akan sentuhan lelaki,
wajahnya memelas, seakan ingin dipuaskan berkali-
kali. Tanpa peduli lagi kalau ia istri dosen saya,
kunikmati tubuhnya pagi itu. Sambil mendengarkan
alunan lagu dari radio, yang makin membuat suasana
menjadi menyenangkan. Kucium lehernya, sambil
kumainkan dua payudara kendornya. Kulucuti
dasternya, dan tampak payudara yang kendor dengan
areola lebar, nipple yang kecil, berwarna coklat muda,
khas bule. Kuremas, kujilat putingnya, kubelai dan
kunikmati setiap sisi payudara besar dan kendor itu.
A : Enak banget susu kamu sayang.
B : Buat kamu sayang. Habisi aku, habisi aku. Aku tak
tahan lagi. Aaahhh, sssshhhhh. Nikmat sayang.
Mmmhhhh. Terus, nikmati aku. Setubuhi aku sayang.
Mmmmmhhhhh. Ouuuuhhhh. Kamu liar. Kamu lelakiku
sekarang. Aaaccchhhh.
Kujilat, dan turun menuju liang kenikmatan miliknya.
Sudah sangat basah. Maklum, bertahun-tahun tidak
merasakan jilatan lidah lelaki, penis lelaki yang
merasuki vaginanya.
A : Sluuurrrppp. Cup cup sluurrppp. Ahhhh. Nikmat
banget sayang.
D : Terussssss, lahap lubangku sayang. Telan semua
lendirnya. Aaaaahhh. Itu milikmu sayang.
Aaaaahhhhhh.
Setelah 10 menit kulahap vagina merekahnya, dia
mulai bangkit dan meraih batang kemaluanku.
D : Pendek sayang, tapi besar banget.
A : Hehehe. Yang penting bisa bikin kamu puas
sekarang.
D : Aku kulum ya sayang. Mmmhhhh. Mhhhh.
Uhhhhh. Sluuurrrrpppp. Mmmhhhhhhhhh. Berotot. Aku
suka. Mmmhhhhhh. Kepala kontolmu merah, sayang.
Uuuhhhhhh. Sluuurrrpppp.
A : Aaaahhhh. Makin liar sayang. Kocok terusss!
D : Mmmhhhhh. Mmmhhhhhmmmmm.
Kucabut batang penisku, dan kutampar wajahnya
menggunakan penisku. Plak, plak, plak. Lalu kami
mulai beradu, bergulat bertarung nafsu. Kumasukkan
batang kejantananku ke liang nikmatnya. Kugenjot,
kusodok, dan kumainkan klitorisnya. Ia berteriak liar.
Tak sampai lima menit, ia orgasme.
D : Sayaaang, nikmaaat. Aku keluaaaaarrrrrrr....
Aaaaaaaaaaahggggggg
Uuuuhhhhh. Lama sekali aku ga main sayang, jadi
cepat keluar. Maaf ya sayang.
A : Iya, sayang. Aku masih perkasa nih.
D : Ayo lanjut lagi. Mumpung masih ada waktu.
Uuuhhh, tiap hari aku bakal kangen juniormu sayang.
Km mau kan puasin aku kalau suamiku ga ada?
A : Pasti sayang. Aku naikin kamu lagi ya. Memekmu
greget banget.
Lalu kami bercinta lagi, dan ia mencapai orgasmenya
yang ketujuh pagi itu. Karena sangat lama ia tak
merasakan orgasme, saat itu ia bisa mendapatkannya
berkali-kali. Kami puas, dan masih sering melakukan
itu di hari-hari selanjutnya. Sampai pada suatu ketika,
dosenku curiga, dan memergoki aku sedang di
rumahnya pada saat malam hari. Lalu ia
mengancamku supaya tidak mengganggu keluarganya
lagi. Karena dosenku juga malu, predikatnya sebagai
dosen bisa tercoreng, karena saya mengetahui
rahasianya, kalau ia sering kasar kepada istrinya.
Akhirnya mereka pindah ke Surabaya, dan kini saya
merindukan istrinya, yang dulu minta masukan ketika
curhat, sampai akhirnya minta dimasukin.