Tuesday, April 28, 2015

B E D A - by Musicboy

Selamat siang suhu-suhu. Posting cerita baru saya. Alurnya agak berliku, semoga tetap bisa dinikmati. Mohon komen dan kritiknya. Kalau banyak yang suka saya posting lanjutannya. Cheers and enjoy sex.

B E D A

Beda yang mempertemukan kami, beda yang mendekatkan kami, beda pula yang meliukkan jalan kami bersatu. Mungkin beda pula yang akan memisahkan kami jika tiba waktunya kami terduduk lelah menatap jalan berliku di hadapan kami. Jika kami menyerah



Hutan Kecil di ujung Tenggara Sulawesi

'MATI KAU ANJIING!' teriakan cempreng yang ditujukan padaku itu memekakkan telinga. Tapi hatiku tak sempat lagi merasakan sakitnya dimaki. Kepalaku terlalu pening menahan sakit fisik dari tendangan telak yang mendarat di pipi kiriku barusan.

Tertatih aku mencoba meraih keseimbangan. Tangan kananku mencoba mengorek darah dari mata kiriku. Aku masih butuh mata ini karena saya tahu, pertarungan belum usai. Badai serangan punggawa tua ini akan datang dari arah titik lemahku.

Benar saja, kelebat hitam terlihat dari sebelah kiriku membuat saya menaikkan kedua tangan menutupi kepalaku, pancingan agar lawanku mau berbaik hati memasukkan serangan berikut ke arah perut. Saya sudah tidak sanggup menerima hantaman di kepala. Dan benar saja, kelebatan kakinya mengarah ke perut samping kiriku. Tapi saya sudah siap. menarik nafas mencoba memanggil sisa-sisa kekuatan yang ada, menghimpunnya di perut dan meledakkannya dengan hembusan nafas. Bertahan, hanya itu yang bisa kulakukan.

Saya pikir saya siap. Tidak begitu kenyataannya.

Olah tenaga dalamku hanya bisa mengurangi dampak serangan itu sampai ke titik mematikan, tapi tendangan itu melukai. Ujung kaki punggawa tua itu menyentuh di satu titik, memfokuskan tenaga dalamnya menembus perisaiku. Serasa ada peluru menembus perut kiriku, tetapi bukannya keluar dari sisi sebelah atau setidaknya berdiam dalam perutku, peluru ini dengan tidak sopannya memantul mantul dalam perutku mengocok isinya dan melemparkanku sejauh 1 meter.

'MATI KAU, HAHAHA! makian cempreng itu terdengar lagi. Tapi belum sempat dilanjutkan suara lain lebih dahulu mendiamkan pemilik suara itu.
'DIAM ANAK KURANG AJAR! TIDAK TAU SOPAN SANTUN!' Kali ini suara si punggawa yang menggema di hutan kecil ini. Dan suaranya sukses membuat diam si pemilik suara.

Saya cuma bisa berbaring telentang mencoba mengatur nafas. Pertahananku hancur. Tinggal usaha menjaga nyawa tetap di badan yang ada. Pandangan buramku menatapi langit yang biru kemerahan tertutup darah di mataku. Sekejap kutangkap bayangan sang punggawa tua melangkah mendekatiku untuk kemudian berjongkok dengan satu lutut di tanah.

'Maafkan cucuku. Dia tidak tahu sopan santun. Dunianya beda dari dunia kita.' Katanya setengah berbisik. Samar saya lihat senyuman di bibirnya.

'Siapa gurumu?' Tanya punggawa itu lagi.

'La Mattuada' jawabku bergetar. 'Almarhum' lanjutku pelan menutup mata. Bukan sakit yang membuat suaraku bergetar. Nama itu memang selalu membuatku kehilangan kata setiap kuucapkan.

'Bohong!' Bentakan Punggawa tua itu membuyarkan lamunanku. 'La Mattuada tidak punya murid! Siapa gurumu?' Bentaknya lagi, kali ini sambil mencekal bajuku.

'Saya tidak bohong Dato. Dia kakekku.' Jawabku lemah.

Lalu diam menyergap, jawabanku membuat punggawa tua itu menatap wajahku lebih seksama. Mungkin mencari kesamaan ciri di wajahku.

'Seandainya kita bertemu di kondisi yang berbeda, mungkin lain ceritanya nak.' Kata Punggawa tua memecah diam kami. Suaranya sedikit bergetar diikuti kebingunganku menatapnya. Dia kenal kakek?

Kemudian punggawa tua itu berdiri. Tubuhnya tegak menatap langit. Bersiap melancarkan serangan penutup rupanya.

Orang berkata pada saat-saat meregang nyawa, fragmen kehidupanmu akan berkelebat memperlihatkan perjalanan hidupmu, memberimu waktu berdamai dengan apa yang akan kau tinggalkan.

Dan hidup berkelebat di pikiranku lebih cepat dari cahaya. Ah, hidupku, hidup yang aneh, seaneh namaku.

Wisnu Angkara Surya. Nama pemberian dari kakek yang tercantum di akta kelahiranku disegel dengan darah dua ekor kambing yang saya yakin tidak tahu masalah tapi jadi korban.

Pemberian namaku bukan asal, kata ayah suatu hari. Itu doa dari kakek agar saya bisa tumbuh menjadi orang yang bijak, cerdas, dan berani berpendirian. Tapi jawaban ayah tidak masuk akal bagi otak kecilku.
Saya sengaja bertanya hari itu karena namaku kerap menjadi bahan olokan di TK tempat saya bersekolah. Wisnu memang bukan nama yang lumrah di tanah sulawesi tempat saya dilahirkan. Terdengar terlalu ke 'jawa-jawaan'.
Tapi tidak ada argumenku yang bisa merubah pendirian orang tuaku. Kompromi terakhir adalah menyingkat namaku menjadi wiwin, lebih bersahabat daripada Wisnu. Dan pada hari pertama saya bersekolah di kelas 1 SD, saya resmikan nama panggilanku pada saat memperkenalkan diri di depan kelas.

Tapi nama panggilan ternyata tidak bisa merubah makna asli sebuah nama. Hidupku seakan ditakdirkan untuk sekeras namaku.

Pada usia 7 tahun, saya pertama kali berhadapan dengan kerasnya hidup.

Pagi itu kami sedang belajar membaca ketika Pak Ramdan, kepala sekolah kami menngetuk pintu kelas dan berbicara kepada Bu Hasnah wali kelas kami. Pembicaraan mereka serius, ditandai dengan Bu Hasnah yang kerap beristigfar, diakhiri dengan elusan dada sambil berucap Inna Lillaah... sebelum berjalan ke arahku, merangkul saya berdiri dan mengantar saya keluar kelas menuju ruang kepala sekolah.

Dalam ruang kepala sekolah, terlihat sosok yang sudah kukenali. Kakekku, si biang masalah atas namaku duduk terpekur di sofa tamu, dan berbalik ketika salam Pak Kepala Sekolah memecahkan lamunannya.

Tidak perlu kejeniusan untuk tahu ada sesuatu yang salah ketika kakek berdiri menyongsongku dan memeluk tubuh kecilku sambil menangis.

Saya kurang suka pada kakek, karena dia orang yang keras. Salah bicara sedikit bisa berakibat bentakannya. Untung hanya sesekali Kakek datang ke rumah, tapi sesekali itu sudah cukup membangun antipatiku. Tapi hari itu sifat kerasnya hilang. Pelukan ini buktinya.

Barulah ketika cerita kakek mengalir saya paham mengapa. Ayah dan ibu meninggal sejam yang lalu karena tertabrak mobil ketika berangkat kerja. Motor mereka yang terlipat dua menjadi pertanda kerasnya tabrakan itu. Tangisanku merobek pagi itu. Rontaan tubuhku baru bisa berhenti ketika Kakek membacakan ayat suci ke telingaku.Tubuhku lunglai ketika kakek menggendong saya pulang ke rumah.

Penguburan dan takziah kujalani dengan perasaan hampa. Hampa karena ketiadaan orang tua, dan hampa karena pengetahuanku atas status ayah yang merupakan orang buangan keluarganya. Tak satupun keluarganya dari Jawa yang menghadiri pemakamannya kecuali seorang adiknyayang kupanggil dengan gelar Bu Lik.

Ayahku asli jawa. Itu saya tahu. Yang saya tidak tahu adalah kepergian ayah meninggalkan luka di keluarganya. Dia dibuang dari keluarganya karena menentang eyang. Dan kini, bahkan setelah tinggal jasad yang terbujur kaku, terbukti luka itu masih basah.

Ayah ibu memang meninggalkan rumah dan tabungan yang cukup untukku, tapi aku yang masih kecil tidak mungkin hidup sendiri. Kondisi ibu yang merupakan anak tunggal lah yang menempatkan kakekku sebagai satu-satunya keluarga yang bisa mengambilku.

Kakek tinggal di kampung kecil sebelah tenggara kotaku. Dia memilih hidup sendiri di kampung untuk bercocok tanam mengisi masa pensiunnya. Pilihan yang aneh bagi semua orang mengingat beliau adalah seorang akademisi yang cukup terkenal di masa mudanya, bahkan sempat terjun ke dunia politik sebelum akhirnya pensiun. Dan karena tak mungkin mengurus ladang dari jarak jauh, saya harus ikut dengannya ke kampung. Sekolahku akan dilanjutkan di sana.

Bayangan kakek yang sangar hilang setelah tinggal dengannya selama beberapa minggu. Begitu juga bayangan manjaku di mata kakek. Kakek seorang yang tegas, bukan kasar. Ketegasannya ditujukan untuk membentukku. Wajahnya yang tanpa senyum semasa orang tua saya masih hidup adalah bentuk protesnya terhadap ibu yang dianggapnya terlalu memanjakanku. Setelah saling mengenal dekat, tumbuh pemahaman karakter diantara kami.

Dukaku perlahan tergerus. Hidup menyapaku ramah di kampung kecil kami. Kami tidak hidup mewah, tapi berkecukupan. Fisikku juga menjadi tangguh ditempa kehidupan perkebunan jagung milik kakek. Siklus hidupku teratur baik. Pagi bangun, menimba air untuk mandi, sekolah, pulang menyiapkan makan dan mengantar ke kebun untuk makan siang bersama kakek, dan melanjutkan membantu pekerjaan di kebun. Sore ku akan diisi dengan bermain, sebelum malamnya belajar dan sholat bersama. Semua normal seperti anak-anak lain di kampungku. Kecuali 1 kegiatan.

Kegiatan yang lain dari yang lain ini terjadi setiap pukul 12 malam tiga kali seminggu di halaman belakang rumah kakek yang berpagar bambu tinggi. Pada malam-malam ganjil, ditemani sinar bulan jika ada, dan tanpa cahaya jika tak ada, kami akan berlatih silat.

Kakek sebenarnya tidak mau megajarkan silat padaku. Hanya kebetulan yang membangunkanku malam itu dan memperkenalkanku pada sisi lain hidup kakek.

Malam itu suara keras mengagetkanku, saya yang saat itu berusia 8 tahun cepat meloncat dari tempat tidur, dan berjalan keluar takut-takut mengintip dari celah pintu yang terbuka. Tapi malam itu bulan tidak menampakkan cahayanya tertutup awan. Di halaman belakang, kulihat sosok gelap sedang menunduk mengangkat sesosok tubuh lain yang terbaring di tanah. Sosok yang terbaring di tanah terlihat lunglai dan membuatku bergidik. Instingku mengatakan kakek sedang dalam bahaya, dan refleks kenangan kehilangan orang tua menyeruak kembali di kepalaku. Kenangan sedih itu menyayat dan saya tidak mau itu terulang. Saya tidak mau kehilangn kakekku.

Palang pintu yang tergeletak kuambil, dan setelah membulatkan tekad, pintu kudorong keras.
'Jangan ganggu kakeeeeek' teriakku menghambur keluar mengangkat palang pintu mengancam sosok yang berdiri tegak itu. Kalau tidak melukai, minimal menakutinya untuk memberiku kesempatan menolong kakek yang terbujur di tanah. Jarak 5 meter antara kami kutempuh hanya dalam 4 langkah. Palang pintu mengacung mengancam.
Tapi sosok itu diam tidak bergeming. Rencana menakuti sepertinya gagal, tinggal rencana melukai. Kuayun palang pintu itu dari atas sekuat tangan kecilku bisa, disambut sosok itu dengan hasta kirinya. Kraak kayu itu patah di hastanya. Patahan kayu melayang ke atas meluncur turun ke arahku. Selama kurang dari sedetik, segalanya melambat. Saya cuma sempat menjatuhkan diri ke belakang dan menutup mata menunggu patahan kayu itu jatuh mrnimpaku.

Tapi sosok di depanku lebih cepat. Sosok yang terkulai dilepaskan sebelum kakinya berputar cepat menyepak patahan kayu di udara, melemparkannya jauh ke arah kanan; menyelamatkan kepalaku.
Sekejap itu membuatku terperangah selama beberapa kejap. Kemudian Dalam remangnya cahaya bulan, sosok itu menarikku berdiri dengan sekali sentak.
'Jangan pernah tutup mata kalau bertarung Win' suara itu lembut tapi tegas. Suara Kakek.

Malam itu di ruang tamu, setelah urusan dengan polisi kampung kami beres kakek menceritakan apa yang terjadi. Sosok yang terkulai adalah perampok yang mencoba menyatroni rumah kami. Apes untuknya karena dia masuk lewat belakang tepat saat kakek sedang berada di sana. Sosok kakek yang sudah cukup renta di usia 60-an awal mungkin membuat perampok itu nekat menyerang. Pilihan yang salah.

'Kenapa dato tengah malam ada di belakang?' Tanyaku penasaran.
'Dato sedang olah raga nak' jawabnya malas-malas bisa mencium penasaranku.
'Olah raga tengah malam? Olah raga apa dato?' Tanyaku lagi.

Merasa tidak mungkin menyembunyikan lagi, kakek saya akhirnya mengakui bahwa dia berlatih silat. Dilanjutkan dengan cerita silsilah keluarga kakek.
Malam itu saya mengetahui bahwa kami berasal dari keluarga punggawa di kampung kami. Punggawa adalah istilah kami untuk jagoan kampung yang bertugas memimpin kampung. 'Memimpin' pada masa lampau juga berarti menjaga. Karena itulah gelar punggawa biasanya jatuh pada satu keluarga khusus yang punya kemampuan lebih; bela diri.
Kakek menyebutnya bela diri, tapi pengalamanku di masa depan membuktikan bahwa istilah tadi adalah penghalusan dari istilah yang lebih tepatnya, seni membunuh.
Saya sebut seni karena ada dua cara yang bisa digunakan membunuh; halus dan kasar. Seni halus lebih mengarah ke ilmu gaib sedangkan kasar lebih mengacu ke mancak alias silat.
Malam perampok itu datang kemampuan mancak yang dipakai oleh kakek. Lalu apa kakek bisa yang halus? Mari sama-sama bingung, karena kakek tidak pernah mau membicarakannya lebih lagi mengajarkannya.
Kalau kakek akhirnya setuju mengajariku mancak, mungkin karena sudah bosan mendengar rengekanku atau bosan harus menjitak kepalaku pagi-pagi karena semalam saya mengintip kakek latihan sampai subuh dan mencoba meniri gerakannya.

Hidup berjalan normal bagi kami selama 9 tahun. Saya tumbuh menjadi anak lelaki normal. Duduk di bangku SMU membuat saya harus bersekolah agak jauh dari kampung. Tapi jarak 8 km menjadi dekat bila dijalani setiap hari. Apalagi dengan menumpang angkot pak Bani tetangaku hehe.

Seperti apa hidupku? Normal saja. Jangan pikir kemampuan silat membuatku pongah. Pelajaran pertama dan syarat dari kakek dalah belajar menyembunyikan kemampuan. Pun ketika saya dipaksa keadaan untuk berkelahi. Jurus-jurus dikemas sesederhana mungkin sehingga terlihat seperti pukulan atau tendangan biasa. Efeknya yang sedikit lebih luar biasa. Itupun saya sembunyikan dari kakek untuk menghindari hukuman berupa latihan ekstra keras.

Kenakalan yang sedikit sulit dikontrol oleh kakek hanyalah kenakalanku soal perempuan. Pada masa hormon-hormonku menyeruak menampakkan taringnya, hilangnya figur ibu yang sulit digantikan oleh kakek membuat saya sedikit bebas. Dan untuk kenakalan yang satu ini saya memang sedikit pongah.

Tanpa saya sadari, latihan silat ditambah kerja fisik membuat stamina tubuhku jauh diatas rata-rata lelaki seusiaku. Stamina seks termasuk di dalamnya. Setidaknya begitu kata perempuan-perempuan yang pernah kutiduri - Perhatikan bentuk jamak kata 'perempuan' tadi (agak pongah kan, red.)

Lebih dari 6 wanita yang menjadi pasangan tidurku sampai usia itu. Umur beragam, begitu juga status sosial. Mulai dari Yuni pacarku yang satu SMA denganku, sampai Bu Hasnah mantan guru SDku yang pindah mengajar di SD dekat SMU ku pernah meregang menikmati rojokan kontolku. Tempatnya pun beragam, mulai dari hutan kecil di dekat sungai, rumah pasanganku sampai rumah kakek. Yang terakhir hanya sekali dan tidak pernah kuulangi karena malamnya kakek mengadakan 'latihan' tiba-tiba berakibat sobekan di kening kiriku.
Tapi luka kecilku tidak mengurangi minatku pada seks. Dan kakek, walaupun tahu akhirnya membiarkan selama tidak di depannya. Yang diajarkan hanya pemahaman mengenai tanggung jawab dan saya terima dengan hati lapang. Hidup cukup standar namun indah bagiku sampai masa SMU.

Sampai tiba masanya hidup mengajak saya duel dengan serangan kejamnya sekali lagi

Hari kelulusan tiba ditandai dengan euforia kami para siswa yang saling menyemprot pylox ke baju kami. Tapi hari itu ada yang terasa aneh untukku. Saat teman-teman lain ingin berjalan-jalan merayakan, saya memilih pulang.

Jika pada saat ayah ibu meninggal kakek yang menjemputku, pada saat kakek meninggal, tak ada yang menjemputku. Hanya insting yang memaksaku lari pulang dari sekolah. Ada yang tidak beres di rumah.

Jangan bayangkan perpisahan dramatis seperti di film, karena hidup tidak seramah itu untukku. Saya menyerbu masuk rumah dan langsung ke kamar kakek hanya untuk mendapati kakek terbujur di tempat tidur mengenakan sarung dan kaus oblong. Peci yang masih bertengger di kepalanya, sejadah yang masih menghampar di lantai dan senyum di wajahnya membuat seakan-akan kakek sedang tidur siang sejenak setelah shalat. Kakek memang tidur, tidak untuk bangun lagi. Selamanya.

Kepergian kakek meruntuhkan duniaku untuk kedua kalinya. Dan kali ini tak ada satupun yang bisa membantuku menatanya ulang.

Siang itu adalah persiapan untuk takziah hari ke 7 kakek berpulang. Saya sedang duduk terpekur di kamar ketika Pak Bani masuk ke kamarku bersama kepala kampung ditemani seorang asing yang mengenakan setelan jas. Pemandangan yang aneh untuk ukuran kampungku.

Pria berjas itu adalah seorang notaris bernama Muzakkir datang dari kota asalku segera setelah dia mendengar kabar meninggalnya kakek. Dia tahu karena kakek memang berpesan pada kepala Kampung untuk mengabari sang notaris jika sewaktu-waktu beliau meninggal.

Tangisku pecah saat tahu kakek sudah mengatur segalanya untuk masa depanku. Kakek mewariskan segala yang dimiliki olehnya kepadaku, termasuk simpanan deposito yang besar di bank yang bila dijumlahkan dengan peninggalan ibuku, membuat saya tidak perlu kuatir mengenai biaya sekolah sampai ke luar negeri sekalipun. Tapi tangisanku saat itu bukan tangisan senang atau terharu, melainkan tangisan sedih. Sedih karena saya rela menukar semua harta itu dengan kakek atau orang tua saya kembali.

Malam itu saat takziah sudah selesai, saya mulai menata rencana hidup. Tinggal di rumah kakek ataupun rumah orang tuaku yang kosong terlalu pahit untukku. Saya lebih memilih mencari kehidupan sendiri. Merantau merupakan pilihan yang tepat saat itu. Persetan! Jika hidup memang mengajakku tarung, saya tidak akan menutup mata sedikitpun menghadapinya.

Malam itu emosi kulampiaskan pada Bu Hasnah yang kutarik saat hendak pulang dari acara takziah. Setelah menyuruhnya bersantai di kamarku sambil menunggu tamu lain pulang, saya membereskan ransel menyiapkan bekal perjalananku.
Bu Hasnah sepertinya memang sedang hot karena saat pintu dan jendela telah saya kunci dan saya beranjak masuk ke kamar, dia sedang berbaring tanpa busana sambil memainkan vaginanya di ranjangku dalam keremangan kamar. Siluet tubuhnya yang berkulit putih mengangkang dengan dengan tangan kiri meremas dadanya sementara dua jari tangan kanannya mengocok pelan vaginanya membuatku melotot, membuka pakaian, dan sambil mengocok pelan kontolku berjalan ke arah tempat tidur.

'Tunggu dulu Win, biar dulu Ibu melihatmu mengocok' katanya dengan nada erotis.

'ibu nakal sekali malam ini' balasku tersenyum dan meluluskan permintaannya, berdiri tegak mengocok kontolku di hadapannya.

'Mungkin ini terakhir kali kita bertemu sayang, kita buat ini berkesan' katanya pelan diantara lenguhannya.

Tidak ada jawaban lagi dariku malam itu, hanya tindakan yang diliputi emosi duka diiringi lenguhan dan teriakam kami.

Perlahan saya berjalan mendekati Bu Hasnah dari sisi kanan ranjang sambil mengangsurkan kontolku yang tegang, disambut hangat oleh bibir basah dan tebalnya dengan lembut namun susah payah.
Dengan ritme pelan namun pasti, bibir dan lidah bu Hasnah bekrja di sekujur kontolku, menghisap, menjilat dan mengecup bergantian. Kukangkangkan kakiku di samping kiri kanan kepalanya sebelum merunduk membalas perlakuannya d perut, paha kemudian vaginanya yang basah. Teriakannya bergema di ruangan ketika saya memainkan klitorisnya dengan bibir dan lidahku.
Bu Hasnah sudah mendekati orgasme saat dia membalikkan tubuhku. Tidak mau membuang waktu, lutut kanannya baru menjejak kasur saat vaginanya sudah menelan kontolku. Lenguhan berganti desahan panjang saat dia mulai menggerakkan pinggulnya. Posisinya yang membelakangiku membuatku leluasa memeluk tubuh gempalnya dari belakang dan bermain di dada montoknya.
Desahan bergani teriakan saat orgasmenya tiba. Tapi malam itu saya bukan seorang cassanova. Saya ingin melampiaskan emosiku, dan dengan gerakan lincah seorang akrobatik, saya mengangkat tubuh dengan kedua tangan, mengatur posisi merangkak bagi Bu Hasnah sebelum memposisikan kontolku memasukinya dari belakang.
Tak kupedulikan keluhan Bu Hasnah yang minta waktu istirahat. Kocokanku cepat dan fokus. Kurang dari 20 tusukan kemudian, orgasmeku tiba. Malam itu kulampiaskan emosiku pada teriakanku, orgasme kali ini diliputi dukaku.

Dan teriakan itu adalah ucapan selamat tinggalku pada hidup di kampung kecil ini.

Sepeninggal Bu Hasnah, malam saya habiskan dalam diam tanpa tidur di kursi tamu ditemani ransel menunggu pagi. Menanti pergiku.

Bersambung...