Permisi suhu-suhu. Nubie yang selama ini cuma jadi silent reader pengen nyoba nulis ni. Mohon bantu kritik dan sarannya ya. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi nulisnya.
Cerita ini baru bagian pertama dari 3 bagian. Kalau memang banyak yang suka, nubie bakal lanjut postingnya. Salam semproot.
sex IS a WholE LOTTA lickING
by Musicboy
Saya tidak pernah menganggap ada yang aneh dengan hidup saya. Saat ini saya berusia 34 tahun, badan rada gendut (males pake istilah chubby, takut dibilang alay). Status ktp kawin, istri 1, anak 2. Kerja jadi karyawan swasta, tinggal di rumah dan punya mobil modal nyicil beberapa tahun lagi selesai. Standar-standar saja. Sama seperti hidup puluhan juta bapak rumah tangga dengan keluarga kecil di Indonesia.
Ya ya, saya akui saya punya pengalaman seks yang banyak. Saya sangat suka dengan kegiatan yang menyangkut seks. Fantasi saya liar dan sulit dibendung. Tapi ini normal saja karena semua laki-laki juga begitu. Kan? KAN??
Yah, begitulah saya pikir awalnya, sampai pada suatu sore yang dingin, ketenangan hidup saya terganggu oleh artikel internet mengenai seks addict (lihat: saya suka kegiatan menyangkut seks). Artikel ini dilengkapi self test pilihan ganda, yang bisa menentukan apakah anda seorang seks addict atau bukan. Hasilnya membuat kantuk saya hilang, disimbolisasi dengan kopi yang muncrat mengenai wajah tetangga meja saya. Setelah cengar-cengir meminta maaf, saya kembali ke meja saya dan mengecek ulang hasil tes yang memvonis saya sebagai: Sex Addict kelas Berat.
Hasil tes ini membuat saya merenungi masa lalu saya, untuk kemudian cengar-cengir lagi diiringi banyak 'ooh iyaa', 'ooh begitu', dan 'ooh pantas' dalam hati, menyadari bahwa hasil tes tersebut benar.
Renungan inilah yang ingin saya share disini sebagai bahan curhat pribadi untuk bisa dijadikan cerminan, atau bahan coli teman-teman. Whatever lah. Here goes...
The Birth of a Sex Addict
Kota Kecil di Timur Indonesia
'80an akhir - '90an awal
Lahir di keluarga kecil akademisi, saya tumbuh bersama keluarga besar kami. Jangan bingung dulu. Maksudnya begini. Keluarga intiku memang hanya terdiri dari ayah, ibu dan adik perempuanku. Tapi rumah besar yang kami tinggali tidak pernah hanya terdiri dari kami berempat.
Sepanjang aku bisa mengingat, rumah peninggalan kakek-nenek saya memang selalu ramai oleh sepupu-sepupu ibu dari kampung yang bersekolah di kota kami. Mereka biasanya akan tinggal di rumah sampai mapan dan akhirnya tinggal sendiri, dan kemudian digantikan lagi olh keluarga yang lain. Berganti-ganti beberapa tahun sekali.
Akhir 80an, yang tinggal bersama kami ada 3 orang: tante ina, umur 24, kuliah di pertanian. Tante Ira, adiknya kuliah di kedokteran, serta indah, yang hanya selisih 3 tahun dariku. Aku, Dian, yang baru berumur 9 tahun senang karena punya teman main. Selain itu ada Supiah, pembantu kami yang berusia 30an, seorang janda ditinggal mati.
Tinggal dengan banyak perempuan dari kampung berefek pada tingginya egoku, sebagai dominant male (hasil tanya om google waktu merenung). Saya menjadi terbiasa menjadi orang yang dimintai tolong jika ada masalah, utamanya soal serangga dan hama. Tikus dan kecoak untuk lebih detilnya, Hehe. Sebaliknya, saya juga diperlakukan seperti lelaki di daerahku pada umumnya. Semuanya diurusi, mulai dari makan, mandi, sampai pakaian. Tumbuhlah aku menjadi anak dengan ego tinggi. Hobi membacaku juga membuat saya makin tertutup dari pergaulan luar. Jadilah saya anak rumahan yang berego lelaki diatas rata-rata.
Satu kelebihan tinggal dengan banyak perempuan adalah pengetahuanku yang berlebih soal anatomi wanita. Tetek dan memek sudah jadi pemandangan normalku. Entah itu saat diminta menunggui mandi tanteku di sumur, menemani indah kencing malam-malam, atau membatu kak piah mengangkat cucian basah untuk disepul. Pakaian rumah mereka tidak jauh dari daster atau kaos oblong tanpa bra dan celana pendek. Tapi saya tidak pernah melihatnya secara erotis atau seksual. Belum, lebih tepatnya. Sudut pandangku berubah drastis pada malam itu.
Malam itu saya tidur agak cepat setelah ikut mengantar ibu dan adikku ke badara bersama supir untuk berangkat ke kota lain mengunjungi kakek nenek. Ayahku yang saat itu sedang melanjutkan studinya di luar negeri sudah hampir sebulan meninggalkan rumah sehingga praktis saat itu hanya saya dan tante-tante yang ada di rumah.
Jam menunjukkan pukul 1 malam saat saya terbangun kehausan. Dengan malas say melangkah ke dapur. Saat melewati ruang makan sayup sayup terdengar cekikikan dari arah ruang keluarga tempat TV berada. Karena penasaran, setelah minum saya putuskan untuk melihat siapa yang begadang.
Sapaan 'hoi' ku tercekat di leher saat saya menyibak gorden pembatas pintu. Begitu juga tawa dari dalam ruag keluarga. Duduk di lantai sambil memegang bantal masing-masing, tante-tanteku dan kak piah sedang menonton TV yang sedang memutar: bokep.
Persentuhan pertamku dengan bokep tak dapat kulupakan. Bule cowok yang sedang menjilat memek lawan mainnya sungguh sangat aneh buatku. Tapi ekspresi dan suara lenguhan bule cewek itulah yang membekas sampai sekarang. Jangan lupa, ini adalah bokep 80an yang masih punya logika cerita dan drama.
Adalah Kak Piah yang berdiri, merangkul kepalaku mengajakku kembali ke kamar sambil berkata, 'ayo tidur, ini bukan tontonan anak kecil'. Dan... itu dia. Titik balik lahirnya seorang sex addict.
Egoku meledak mendengar kata 'anak kecil'. Saya melepaskan rangkulan kak piah dan ikut duduk di karpet bersama tante-tante. Tante Ina mencoba membujuk tapi saya hanya menjawab pendek 'saya bukan anak kecil!' Kedua tanteku hanya bisa saling pandang dan mengangkat bahu. Kami sama-sama tahu bahwa kartu as ada di tanganku.
'Tapi jangan bilang-bilang ibu ayahmu ya. Apalagi kakek nenek.' Pinta tante Ina pelan.
'Oke.' Jawabku pendek.
Atmosfir ruangan kembali santai, Kak Piah kembali duduk di lantai di belakangku sambil tertawa ringan. Saya mengambil posisi berbaring di paha kak piah seperti biasa saat menonton. Acara nonton dilanjutkan.
Adegan demi adegan membuatku tanpa terasa semakin bernafsu. Tiba-tiba cekikikan tante-tanteku berubah menjadi tawa keras. Saya berbalik dan melihat tante Ira menunjuk kolorku. Saya mengikuti pandangannya dan tersentak melihat kontolku yang super ngaceng muncul dari belahan depan kolorku. Sambil tersipu malu saya mencoba menutup kembali. Kak Piah mengambil bantal untuk menutupi kontolku. 'Betul-betul sudah besar anak ini.' Katanya kepada tante-tanteku diiringi cekikikan mereka.
Acara nonton masih berlangsung selama setengah jam. Film bokep yang kutonton bukan satu-satunya sumber edukasi seksku malam itu. Sumber yang lain adalah gosip wanita-wanita yang menonton bersamaku. Malam itu kuketahui tante-tanteku sudah tidak perawan. Posisi seks apa saja yang pernah dicoba, dan mana yang enak. Kak Piah yang dianggap lebih berpengalaman banyak memberi masukan, terutama mengenai cara yang aman agar tidak hamil. Saya menjadi pendengar yang baik sambil terkantuk-kantuk.
'Si Dian ga bakal lapor kan' celetuk tante Ina entah kepada siapa. Saat itu mataku sudah terpejam walaupun belum tidur.
'Tidak lah. Sudah besar kok dia.' Yang ini Kak Piah.
'Iya besar. Kaget saya liat kontolnya tadi. Besaar hahaha' hmm kalo yang ceplas ceplos ini sudah pasti Tante Ira.
'Baguslah, nanti istrinya senang.' Sambung tante Ina disambung cekikikan yang lain.
Malam itu akhirnya diakhiri dengan acara kencing ke belakang. Saya diantar tidur oleh Kak Piah.
'Jangan bilang siapa-siapa ya Yan (itu panggilanku) kita tadi nonton film begituan.' Pinta kak Piah
'Iya kak.' Kataku pelan. 'Enakkah begituan kak?' Tanyaku pelan
'Nanti Dian tahu sendiri kok.' Kata Kak Piah sambil senyum dan mengelus kepalaku. Tidak kusadari, elusan kak Piah membangunkan kontolku.
'Eeh berdiri lagi.' Celetukku. Kak Piah melihat ke arah kolorku dengan pandangan aneh. Hanya sepersekian detik sebelum pandangan aneh itu hilang.
'Itu tandanya Dian sudah besar.' Kata Kak Piah. 'Dian harus rajin-rajin bersihkan ya.' Sambungnya.
'Apanya yang dibersihkan kak?' Tanyaku bingung.
'Ya, burungnya.' Kata Kak Piah.
'Saya tiap hari mandi kok.' Sambungku
'Iya, tapi harus dibersihkan lebih baik. Apalagi kalau sudah keluar air maninya.' Sambung Kak Piah.
'Air mani itu apa kak?' Tanyaku yang semakin bingung.
'Itu yang keluar dari burungmu kalau sedang nafsu.' Kata Kak Piah. 'Tadi waktu pipis ada yang lengket kan?' Tanyanya.
Aku jadi teringat, tadi memang rasanya ada yang agak lengket sewaktu 3 kolor di kamar mandi. Tidak sadar tanganku meraih ke dalam celana dan meraba kontolku. Ada yang lengket di ujung burungku saat itu. 'Kak, ini ada yang lengket sekarang!' Kataku bersemangat.
Kak Piah tertegun sejenak, nafasnya agak memburu dan berkata 'sini kakak lihat.'
Saya menarik turun kolorku membebaskan kontol kecilku dari sangkarnya.
Panndangan aneh kembali muncul di mata Kak Piah. Kali ini bertahan agak lama sebelum kemudian hilang dikejap matanya. 'Ehm, coba kakak periksa.' Kata kak Piah dengan suara sedikit serak. Perlahan tangan kanannya memegang kontol tegangku. Tangannya yang dingin membuatku sedikit kaget. Tapi hanya sebentar. Karena kemudian yang kurasakan hanya:enak. Tangan kiri Kak Piah tidak tinggal diam ikut menginspeksi dengan cara meraba ujung kontolku.
'Hmm, iya sudah mulai ada memang Yan.' Kata Kak Piah.
'Ya sudah, saya bersihkan dulu.' Kataku sambil mencoba tegak di tempat tidur.
'Eeh, sudah malam nanti sakit kalau basah-basahan.' Kata Kak Piah.
'Kan kata Kakak, harus dibersihkan.' Balasku.
Kak Piah terdiam beberapa detik dan kemudian memberi jawaban yang melengkapi proses kelahiranku.
'Biar Kak Piah bersihkan. Tapi tidak pakai air.' Katanya.
'Terus pakai apa Kak?' Tanyaku bingung.
Bukan jawaban yang kudapat tapi kak Piah yang merendahkan kepalanya di atas kontolku untuk kemudian memasukkan kujung kontolku ke mulutnya. Posisinya yang duduk di sebelah kiri tempat tidur sejajar dengan kepalaku memberi akses kepada mataku untuk melihat apa yang terjadi.
Ngilu, geli dan enak bercampur jadi satu saat kak piah menghisap kontolku untuk pertama kali dalam hidupku. Tangan kanannya mengocok lembut batangku. Hanya kurang dari tiga menit yang dibutuhkan untuk membuatku ejakulasi malam itu. Ya, ejakulasi pertamaku di mulut janda pembantuku.
Saat kurasakan sesuatu menyemprot ke mulut kak Piah, saya kaget dan berusaha duduk tegak, tapi ditahan oleh kak Piah. Jadilah semua sperma pertamaku ditelan olehnya. Setelah ejakulasiju reda. Kak Piah menegakkan tubuhnya dan memperlihatkan isi mulutnya padaku. Cairan putih itu terlihat menjijikkan, tapi tidak untuk Kak Piah, karena sejenak kemudian ditelannya bulat-bulat sebelum kemudian tersenyum padaku.
'Itu yang namanya air mani.' Kata kak Piah tersenyum manis padaku yang hanya bisa melongo dengan jantung berdebar.
'Kakak bersihkan dulu yah.' Sambungnya sambil menurunkan kembali kepalanya ke arah kontolku. Kali ini tidak menghisap, hanya menjilati batang dan kepala kontolku. Kurang dari 1 menit kemudian proses pembersihan selesai, ditutup dengan kecupan kecil di kepala kontolku. Celanaku dinaikkan sebelum kak Piah menutupiku dengan selimut dan mengecup keningku.
'Jangan bilang siapa-siapa kalau kakak sudah bantu membersihkan burungmu ya.' Kata kak Piah.
'Iya kak.' Jawabku pendek.
Kak Piah kemudian memelukku sebelum beranjak berdiri dari duduknya dan berjalan keluar.
Malam itu saya tidur nyenyak. Tak jelas apa mimpiku malam itu, tapi saya yakin mengenai Kak Piah, tanteku dan bule-bule.
Babak pertama kehidupanku sebagai Sex Addict-pun dimulai.
Bersambung...
Tuesday, April 14, 2015