Sunday, June 7, 2015
12:02 AM

(Kisah Tita) Mantan Sopir Ayahku

Entah merupakan hasil benih dengan dengan Amar, adik laki-lakiku, atau bukan tapi yang jelas setelah persetubuhan terakhir dengannya akhirnya aku pun hamil. Padahal sejak pertama kalinya melakukan persenggamaan aku tidak pernah hamil walaupun seluruh pasanganku selalu mengeluarkan spermanya di dalam. Tentu saja semua hal tersebut tidak pernah aku ceritakan kepada suamiku. Saat ini aku sudah memiliki seorang anak perempuan yang mungil dan cantik.

Seperti yang pernah aku singgung, suamiku adalah seorang pegawai di salah satu Bank pemerintah. Mungkin karena suamiku ingin karirnya lebih meningkat, maka akhir-akhir ini dia jarang pulang tepat waktu. Karena sudah lelah maka apabila suamiku sedang berada di rumah, yang dia lakukan hanyalah makan, istirahat dan tidur. Hari-hariku juga terasa membosankan karena sebagai ibu rumah tangga dengan rutinitas yang itu-itu saja. Suamiku kemudian menyarankan agar aku memiliki kegiatan agar tidak terlalu bosan.

Benar juga sih, dari pada aku hanya bengong sendiri di rumah akan lebih baik jika aku cari kegiatan. Akhirnya aku membuka butik kecil, sekedar untuk mengisi waktu dan menyalurkan hobiku. Begitu kubuka pintu kamar, aku langsung melepas pakaianku hingga tinggal bra dan celana dalam saja yang masih melekat pada tubuhku.
Ketika aku berjalan hendak memasuki kamar mandi aku melewati tempat rias kaca milikku. Untuk beberapa saat aku melihat tubuhku ke cermin dan melihat tubuhku sendiri, kulihat betisku yang masih kencang, lalu mataku mulai beralih melihat pinggulku yang berukuran sedang dengan pinggang yang kecil.
Kemudian kuperhatikan bagian atas tubuhku, payudaraku yang masih diselimuti bra terlihat bertambah besar setelah aku melahirkan.

Eeeh... Ngapain Mamang di sana!? aku membentak akibat terkejut dengan sosok Mamang yang sedang berdiri di bibir pintu kamar.

Jangan ngeliatin...!! Teteh lagi ganti baju nih...! kataku dengan marah sambil menutupi bagian tubuhku yang terbuka.

Tetapi bukannya mematuhi perintahku dia malah melangkahkan kakinya hingga masuk ke dalam kamar ini.

Mamang...!! Teteh udah bilang cepatan keluar...!! Kalo nggak Teteh teriak nih...!! bentakku lagi dengan mata melotot.

Silahkan aja Teteh teriak sekuatnya... Di rumah ini kan cuma tinggal kita berdua... Terus hujan di luar juga bakal bikin suara Teteh nggak kedengeran sama tetangga... ucapnya dengan tatapan tajam.

Sepintas kulihat celah jendela yang berada di sampingku dan ternyata memang hujan sedang turun dengan lebat, memang ruang kamar tidurku cukup rapat jendelanya hingga hujan turun pun takkan terdengar hanya saja di luar sana kulihat dedaunan dan ranting pohon bergoyang tertiup angin.

Detik demi detik tubuh mantan sopir ayahku semakin dekat dan terus melangkah menghampiriku. Terasa jantungku semakin berdetak kencang dan tubuhku semakin menggigil karenanya. Aku pun mulai mundur teratur selangkah demi selangkah, aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu sampai akhirnya kakiku terpojok oleh bibir ranjang tidurku.

Mang... Ja-jangaaaan...! kataku dengan suara gemetar.

Huahahaha...! Percuma Teh... Mamang udah napsu liat badan mulus Teteh... dia hanya tertawa saat melihatku ketakutan.

Ja-jangan dong...!! jeritku begitu dia sekarang hanya berjarak beberapa langkah dariku.

Mamang mulai menerjangku hingga terpental jatuh di atas ranjang dan dalam hitungan detik tubuhnya langsung menyusul dan menindih tubuhku yang dalam keadaan pasrah. Aku terus berusaha meronta saat Mamang mulai menggerayangi tubuhku dalam himpitannya. Perlawananku yang terus-menerus dengan menggunakan kedua tangan dan kedua kakiku untuk menendang-nendangnya terus membuatnya sedikit kewalahan hingga sulit untuk berusaha menciumku hingga akhirnya aku berhasil lepas dari himpitan tubuhnya yang kekar itu.

Begitu aku mendapat kesempatan untuk mundur dan menjauh dengan membalikkan tubuhku dan berusaha merangkak namun aku masih kalah cepat dengannya, mantan supir ayahku berhasil menangkap celana dalamku sambil menariknya hingga tubuhku pun jatuh terseret ke pinggir ranjang kembali hingga bongkahan pantatku kini terbuka.

Namun aku terus berusaha kembali merangkak ke tengah ranjang untuk menjauhinya. Lagi-lagi aku kalah cepat dengannya. Dia berhasil menangkap tubuhku kembali namun belum sempat aku bangkit dan berusaha merangkak lagi, tiba-tiba saja pinggulku terasa kejatuhan benda berat hingga tidak dapat bergerak lagi.

Maaaang... Ennggh... Ja-jangan... Jangaaaan... aku memohon berulang-ulang.

Rupanya dia sudah kesurupan dan lupa siapa yang sedang ditindihnya. Setelah melihat tubuhku yang sudah mulai kecapaian dan kehabisan tenaga lalu supirku dengan sigapnya menggenggam lengan kananku dan menelikungnya kebelakan tubuhku begitu pula lengan kiriku yang kemudian dia mengikat kedua tanganku kuat-kuat, entah dengan apa dia mengikatnya. Setelah itu tubuhnya yang masih berada di atas tubuhku berputar menghadap kakiku. Kurasakan betis kananku digenggamnya kuat-kuat lalu ditariknya hingga menekuk.

Lalu kurasakan pergelangan kaki kananku dililitnya dengan tali. Setelah itu kaki kiriku yang mendapat giliran diikatkannya bersama dengan kaki kananku.

Mamang udah lama pengen nyicipin tubuh Teteh... bisiknya di dekat telingaku.

Dari pertama kali Mamang jadi sopir ayah kamu, Mamang emang udah nungguin kesempetan kayak gini... katanya lagi dengan suara nafas yang memburu.

Ta-tapi Teteh kan... Anak majikan Mamang... kataku mencoba mengingatkan.

Tapi kan itu dulu... Sekarang mah udah nggak lagi atuh... Hehehe... balasnya sambil melepas ikatan tali bra yang kukenakan.

Heeehh... Mmm... Heeehh... desah nafasnya memenuhi telingaku.

Wah... Tambah montok aja nih badan Teteh...! ujarnya memandangi tubuhku dengan tatapan nanar.

Tangannya bergetar meraih dan meremas-remas payudaraku yang menyebabkan aku mendesah-desah. Suaranya desahanku terdengar sangat sensual. Wajahnya mendekati kedua bukit kembarku lalu kurasakan lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di putingku, menghisap dan meremas-remas payudaraku.

Setelah itu tangannya mulai merayap ke bawah, mengelus-elus bagian kewanitaanku yang tidak ditumbuhi bulu-bulu sama sekali. Jari Mamang mulai mengelus-elus bibir vaginaku lalu menyusup ke dalam.

Aaaahh... Maaaaang...!! erangku menahan rasa nikmat.

Mamang tidak membuang-buang waktu, dia segera membuka kaos lusuh dan celana panjangnya kemudian kembali melumat payudaraku yang sudah menegang. Perlahan mulutnya merayap makin ke bawah. Dia mengecup-ngecup gundukan di antara pahaku sekaligus mengelusi paha dan pantatku.

Dengan hati-hati ia membuka kedua pahaku dan mulai mengecup vaginaku disertai jilatan-jilatan. Tubuhku pun bergetar merasakan serangan lidah Mamang.

"Agghh... Ooohh enakk... Maaang!! Te-terus jilatnyaaaa... I-iyah... Di situuu... Aaaahhh!!!" desahku sambil menjambak rambutnya.

Mendengar desahanku, Mamang semakin menjadi-jadi. Dia bahkan menghisap-hisap kewanitaanku dan meremas-remas payudaraku dengan liar secara bersamaan. Hentakan-hentakan birahi sepertinya telah menguasai diriku, tubuhku menggelinjang keras disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tanganku mengusap-usap dan menarik-narik rambut Bang Selon, seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang kurasakan. Kubuka lebih lebar kedua kakiku agar memudahkan mulut Mamang melahap vaginaku.

Sensasi geli yang nikmat membuatku menggeleng-gelengkan kepala dan menggeliat-geliat. Aku makin tenggelam dan setiap detik belalu semakin dalam menuju ke dasar lautan birahi. Si Mamang tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya, dia membuka celana dalamnya dan merangkak naik ke atas tubuhku.

Kami pun bergumul dalam ketelanjangan yang berbalut birahi. Sesekali Mamang berada di atas dan sesekali di bawah. Pinggulnya terus bergerak liar, demikian pula aku yang tidak tinggal diam dan melakukan hal yang sama. Kemaluan
kami saling beradu, menggesek dan menekan-nekan. Detak jantungku semakin kencang dan bagian-bagian sensitif di tubuhku mengeras.

Rasa malu dan berdosa telah tergerus oleh birahi yang meledak-ledak bercampur sebagai pelampiasan dari rasa marah, sedih dan kecewa yang kurasakan.

Di tengah kegalauan ini aku teringat sebuah film yang pernah kutonton yang berkisah tentang seorang wanita yang berselingkuh dengan pria asing yang berperawakan kasar. Kenyataan bahwa Mamang, pria dewasa berusia 40 an yang sedang menggumuliku ini adalah mantan supir Ayah, membuat birahiku semakin memuncak.

Aku tahu bagi sebagian orang ini menjijikkan tapi aku tidak peduli karena aku mulai menikmatinya. Menikmati bagaimana tubuhku dijarah pria lain. Mamang kini memposisikan diri di antara kedua belah pahaku sambil tangan kanannya memegang kejantannya yang telah menegang.

Dia kini mengarahkan kejantanannya ke vaginaku.

"Mamang coblos sekarang yah Teh..." katanya meminta persetujuanku.

"I-iyah... Tapi jangan kasar-kasar ya Mang..." pintaku.

Tenang Non... Sama Mamang pasti ketagihan deh...! dia lalu mulai menekan kepala penisnya yang mirip jamur itu ke bibir vaginaku.

"Ehhhh... Aaaahh... Mmpphh..." aku pun merintih-rintih.

"Santai aja Teh... Nanti pasti lebih enak lagi..." perintahnya.

"He-eh Mang Eeesshh" penis itu panjang juga, lebih panjang dari milik suami ataupun adik laki-lakiku.

"Enak Teh?" tanyanya.

"Ehh... Iya Eenaakk banget Mang" jawabku sambil menggeliat.

Mamang menekan pinggulnya lagi sehingga penisnya makin masuk ke vaginaku.

Bersambung dulu ya...